Kewirausahaan : Sunarni, dan “Group of The Deaf People”

kewirausahaanKOMPAS.com – Bagi Sunarni, menjalankan usaha tidak hanya untuk meraih keuntungan, tetapi juga untuk mengolah limbah dan membantu sesama. Sunarni memulai bisnis tas yang terbuat dari limbah kemasan plastik karena sang adik yang menyandang tuna rungu. Sunarni  dan ibunya (almarhum Kasmi), ingin sang adik kelak dapat hidup mandiri. “Saya berpikir nantinya adik saya mau jadi apa. Makanya kita kasih keterampilan supaya bisa mandiri,” kata Sunarni pada Kompas.com akhir pekan lalu.Dari situ ia dan ibunya membuat usaha kecil-kecilan dengan modal seadanya, mencari/membeli barang barang bekas dari para pemulung, seperti bungkus kopi, deterjen dan sebagainya untuk dijadikan tas dan souvenir lainnya. Hingga akhirnya sampah yang tadinya terbuang bisa dimanfaatkan jadi barang yang bernilai ekonomis. Pelatihan kewirausahaan dan diklat kewirausahaan hanya disini dan hubungi kami

Ia pun kemudian membuat usaha kelompok kecil yang diberi nama “Group of The Deaf People”, karena yang dididik adalah anak tuna rungu. Ia mengumpulkan teman-teman adiknya di sekolah luar biasa (SLB) dan bekerja sama dengan pihak sekolah untuk dilatih keterampilan membuat tas. Sunarni mengaku pada awalnya hanya 3 orang siswa yang dilatihnya, namun lama-kelamaan makin bertambah.

“Setiap Jumat dan Sabtu saya mengajar keterampilan di SLB. Saya juga menerima siswa SLB yang mau PKL di tempat saya,” ujar Sunarni yang memulai usaha ini sejak tahun 1995 dengan brand “ The Happy Trash Bag”.

Awalnya, limbah plastik yang menjadi bahan baku tas produk Sunarni diperoleh dari pemulung. Ia mengaku membeli limbah plastik seharga Rp 5.000 per kilogram. Namun saat ini Sunarni mengaku sudah ada perusahaan yang memasok limbah plastik.

“Kalau sekarang sudah ada banyak kerjasama. Limbah plastik disuplai, nanti kalau sudah jadi tas mereka beli lagi. Tapi kalau banyak pesanan ya saya tetap beli juga di pemulung,” imbuh Sunarni.

Dari limbah plastik, ia memproduksi tas, aksesoris, dompet, tempat pensil, dan produk sejenis. Harga tas produksinya berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 400.000. Variasi harga tergantung jenis material dan banyaknya limbah bahan baku. Dari sini ia meraup omzet kotor Rp 20 juta per bulan.

Sunarni menjual tas produksinya di minimarket dan hotel-hotel, seperti Hotel Gran Melia, Hotel Crystal, dan Hotel Harris Kelapa Gading dan Pulo Gadung. Pembelinya bahkan ada yang berasal dari Australia, Singapura, Thailand, Dubai, dan Inggris.

“Mereka (pelanggan luar negeri) bilang salut dan menghargai saya karena bisa mengurangi limbah menjadi barang yang berguna. Mereka nggak peduli harga. Harga berapa saja mereka bayar,” jawab Sunarni saat ditanya tanggapan pelanggan dari luar negeri membeli produknya.

Saat ini Sunarni memberdayakan 7 orang tuna rungu yang berusia 25 – 35 tahun, yang sudah lulus SMP dan SMA . Mereka merupakan siswa SLB yang telah dilatihnya. Ia juga menerima siswa SLB yang PKL di workshopnya. “Bahkan ada anak yang sudah 12 tahun ikut (bekerja) sama saya,” kata Sunarni.

Karena bisnis yang dijalaninya, Sunarni berhasil memperoleh Danamon Entrepreneur Awards 2013. Ia mengaku tak sengaja ikut kompetisi wirausaha tersebut. “Sahabat saya merekomendasikan saya untuk ikut Danamon Entrepreneur Awards. Saya menang karena saya kerja untuk sosial, bukan hanya untuk pribadi,” ujarnya.

Ke depan, Sunarni ingin masyarakat lebih mengenal tas produksinya. Ia juga ingin memperluas dan memudahkan pemasaran produknya, bahkan hingga ke luar negeri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*