Diperlukan Model Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pelatihan Wirausaha Kecil Di Wilayah Kecamatan Temon Kab. Kulon Progo Yogyakarta (Sebagai upaya mempersiapkan masyarakat sejalan dengan Pembangunan Airport City)

OPINION OF THE WEEKS

Berisikan tanggapan, opini-opini kami terkait
pariwisata terkini serta isu-isu yang perlu disikapi dalam pengembangan
pariwisata terkini. Todays opini juga menerima masukan-masukan dari
penulis lainnya terkait dengan tema Kewirausahaan, CSR, Pasar Tradisional dan Perencanaan secara luas

Yogyakarta akan memilki bandara baru untuk menggantikan bandara lama Adisucipto yang konon daya dukungnya sudah overload saat ini. Rencana pembangunan bandara baru tersebut telah ditetapkan di Kecamatan Temon, kabupaten Kulon Progo. Konsep pembangunan bandara itupun tidak tanggung-tanggung, tidak sekedar ‘city airport’ melainkan airport city, yaitu kota yang lengkap dengan berbagai fasilitas, termasuk bandara sebagai pusat pertumbuhan. Hal ini berarti bahwa wilayah Kecamatan Temon dan sekitarnya akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi global dan secara sosial, budaya/kemasyarakatan dan lingkungan akan terdorong kearah modernisasi dan kehidupan urban pada umumnya. Dengan perubahan tersebut tentunya akan menimbulkan implikasi kepada penduduk setempat baik secara positif maupun negatif. Posistif apabila masyarakat sudah dipersiapkan sebelumnya melalui berbagai pembekalan, baik secara ekonomi maupun sosial/budaya; sehinngga masyarakat mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada dan mampu mengembangkan diri melalui usaha-usaha yang positif, kreatif dan produktif. Dampak negatif bisa muncul pada mayarakat lokal yang tidak dibekali dengan pemahaman dan wawasan tentang perubahan yang terjadi secara cepat . Kemudian akibatnya akan menimbulkan berbagai ekses terhadap kehidupan masyarakat setempat, seperti kerawanan sosial, penurunan kualitas moral dan budaya karena pengaruh budaya modern yang muncul secara cepat. Hal tersebut tentunya menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Kulon Progo untuk mempersiapkan masyarakat kecamatan Temon dan sekitarnya, melalui sosialisai dan komunikasi dua arah antara masyarkat setempat dan Pemerintah termasuk pembekalan pengetahuan/keahlian tentang interpreneurship/kewirausahaan dan konsep pelayanan yang baik.

Sudahkah hal tersebut dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kulon Progo? Mengingat saat ini harus sudah mulai dipersiapkan berbagai Program Pemberdayaan Masyarakat khususnya di Kecamatan Temon dan sekitarnya.

Edisi Minggu ke-3, Oktober 2013

Admin menerima masukan opini dari penulis dan
pemerhati pariwisata. Untuk tulisan dapat dikirimkan melalui kiranajasa@gmail.com


Sejauh ini ada kesan bahwa sosialisasi tentang pembangunan Airport City kepada msyarakat lokal masih kurang. Kalaupun ada komunikasi hanya dilakukan satu arah. Informasi yang diberikan Pemda sudah barang tentu barkaitan dengan sisi positif pembangunan tersebut, misalnya : bandara akan menyerap sekitar 5000 tenaga kerja, disekitar bandara akan dibangun hotel-hotel berbintang lengkap dengan berbagai fasilitas perbelanjaan seperti mall dan fasilitas modern lainnya. Tanpa pembekalan dan sosialisasi sebelumnya, informasi semacam itu akan rancu dan membuat masyarakat binggung. Sisi posistif memang boleh ditampilkan , namun perlu juga dipikirkan berbagai masalah yang mungkin timbul sebagai konsekwensi dari perubahan/pertumbuhan yang ada. Ada beberapa saran dari masyarakat yang menghendaki adanya Program Pemberdayaan Masyarakat di Kecamatan Temon yang bersifat nyata. Bentuk kegiatan yang dikehendaki bukan hanya Pelatihan SDM melainkan penciptaan pengusaha lokal (enterpreneur), Tujuannya adalah untuk mengantisipasi (dengan dibangunnya bandara di wilayah kecamatan Temon tersebut), masyarakat lokal dapat ikut berpartisipasi secara aktif dan tidak hanya menjadi penonton atau paling banter buruh di bandara dan berbagai fasilitas pendukungnya. Masyarakat harus didorong untuk bisa menjadi ‘tuan’ diwilayahnya bukan hanya pembantu/buruh yang dikendalikan oleh pihak-pihak yang lebih kuat (bermodal).
Untuk mengantisipasi hal tersebut. Pemerintah Daerah hendaknya melakukan satu Kajian/Study yang bertujuan menemukan model pemberdayaan masyarakat Kecamatan Temon dan wialayah pesisir disekitarnnya untuk berwirausaha melalui: (1). Analisis Masalah dan Potensi Masyarakat Kecamatan Temon termasuk wilayah pesisir disekitarnya; (2). mengidentifikasi kebutuhan belajar dan hal-hal yang dibutuhkan masyarakat setempat; (3). Mengembangkan pemberdayaan model non fisik sesuai tipologi desa untuk pengembangan kemampuan berwirausaha dalam skala kecil. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan research dan development, dengan target meliputi: (1). Identifikasi masalah dan potensi masyarakat melalui tehnik observasi langsung, dokumentasi dan wawancara. Dokumentasi dimaksudkan sebagai data sekunder mengenai dinamika masyarakat dan data-data yang berupa visual proses selama penelitian berlangsung. Pendekatan kuantitatif dan kualitatif digunakan untuk mengeksplorasi data-data tentang potensi dan masalah. (2). Identifikasi kebutuhan belajar dan potensi masyarakat melalui FGD. (3).Menemukan pendamping untuk masing-masing desa sebagai upaya pembinaan dan (4). Menyusun panduan pemberdayaan masyarakat sebagai dasar menyusun langkah – langkah kebijakan yang harus diambil Pemerintah Daerah/Lokal untuk memberdayakan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*