Batik Pohon Meraup Untung Besar

membatikIkuti pelatihan di Yogyakarta Pelatihan Teknik Dasar dan Pemasaran Batik,Pelatihan di Yogyakarta dan dilaksanakan selama 2 hari pada 9—10 Oktober 2013 bertempat di JTTC dengan ruang lingkup materi pelatihan meliputi: Prospek Bisnis Berwirausaha Merancang Konsep Bisnis Usaha; Mengembangkan Strategi Pemasaran; Manajemen Keuangan Usaha Batik; Teknik Pembuatan Batik; Teknik Tampilan, Pengemasan dan Penyimpanan Produk Batik; serta Strategi Pengembangan Usaha. Untuk informasi dan kegiatan dapat menghubungi C/P 0816592791

VIVAnews – Pemilik usaha kerajinan batik dengan merek Batik Pohon, Candra Diana, menggunakan kayu-kayuan sebagai bahan pewarna kain untuk produknya. Ternyata, ini membuat produk batiknya lebih disukai pelanggan dan lebih laris sehingga mampu mendapatkan untung jutaan rupiah per bulannya. Kepada VIVAnews, wanita ini menuturkan bahwa usahanya ini dimulai sejak tiga tahun silam. Modal yang dikeluarkannya terbilang cukup besar, mencapai puluhan juta rupiah. “Kalau dihitung-hitung, ada sekitar Rp34 juta. Setahun pertama saya tidak bisa berjualan karena mencoba warna,” ujar Candra saat ditemui di sela pameran bertajuk “Gelar Batik Nusantara” di Jakarta.

Mengenai pemilihan nama Batik Pohon sebagai brand usahanya, Candra menjelaskan, karena motif yang digunakan dalam produknya sebagian besar bertema tumbuhan, seperti sulur-sulur, longlong, dan ceplok (kawung). Sementara motif parang, digunakan hanya sebagai pelengkap atau hiasan.

“Saya kurang begitu suka motif hewan dan yang lainnya,” kata Candra.

Sedangkan pewarnanya, Candra tidak menggunakan zat kimia seperti yang digunakan oleh pembatik lainnya. Wanita kelahiran Kudus, 26 Januari 1969, justru hanya menggunakan buah, kulit buah, kulit kayu, atau bahkan kayu sisa-sisa penggergajian untuk dijadikan bahan utama pewarna.

“Kayu yang cokelat kemerahan untuk warna cokelat kemerahan. Kayu secang yang biasanya untuk bir pletok digunakan untuk warna cokelat. Kayu tegeran dari Kalimantan untuk warna kuning. Kayu jambal untuk warna cokelat muda. Buah jambal yang biasanya untuk jamu sari rapet, digunakan untuk warna agak transparan,” papar Candra.

Bahan-bahan pewarna itu didapatkan dari industri pembuatan mebel dan Pasar Beringharjo yang merupakan pasar tradisional di Jogjakarta.

“Dulu harganya Rp3.500 per kilogram. Itu juga saya beli tiga tahun yang lalu. Kalau kulit buah jalawe sekarang harganya Rp25 ribu per kilogram, padahal dulu Rp6.500,” kata Candra.

Dengan pewarna alami ini, Candra bisa meraih untung. Keuntungan ini baru diperolehnya setelah perjalanan bisnisnya menginjak tahun kedua.

“Sekarang mulai keluar untungnya. Rata-rata sekitar Rp5-10 juta,” kata sarjana Teknik Arsitektur Universitas Diponegoro ini.

Wanita ini menggunakan pewarna alami untuk membatik karena dia melihat warna ini tidak gampang pudar. Menurutnya, bahan-bahan itu justru tidak membuat serat kain menjadi rusak, tidak seperti pewarna kimia. “Kalau mencuci batik ini, tidak perlu dengan deterjen. Cukup dengan air hangat lalu diangin-angin. Deterjen akan membuat warna menjadi rusak,” kata Candra.

Proses pembuatan batik dengan warna ini, sama dengan proses membatik dengan zat kimia. Bedanya hanyalah frekuensi pencelupan yang lebih banyak. Awalnya, bahan-bahan pewarna itu direbus dengan air dalam takaran tertentu selama sejam. Setelah air mengental dan warna yang dikehendaki itu muncul, perebusan itu dihentikan dan didiamkan hingga keesokan harinya.

Wanita ini menggunakan kain sutra, katun, dan serat nanas untuk batiknya. Kain-kain yang awalnya berwarna putih itu, direbus dengan air bercampur tawas hingga suhu airnya hangat-hangat kuku dan itu pun hanya sebentar. Kalau terlalu lama, serat kain akan merenggang dan rusak.

“Untuk menghilangkan lemak pada kain. Pewarna alam tidak bisa menempel kalau kain tidak direbus dengan tawas. Kalau pewarna kimia, itu bisa langsung menempel setelah direbus dengan air saja,” kata Candra.

Setelah direbus, kain itu dibilas dengan air biasa, lalu dijemur hingga kering. Setelah kering, digambar sesuai pola yang diinginkan, lalu dicelup-celup ke dalam rebusan pewarna. “Pencelupan dilakukan sampai 20-30 kali,” kata Candra.

Proses awal membatik, mulai dari pembuatan pewarna hingga membatik, makan waktu kurang lebih tiga minggu. Itu pun tergantung dari ukuran kainnya. Harga produknya bervariasi, yaitu dari jenis dan ukurannya.

Syal batik seharga Rp375 ribu, kebaya polos dengan warna alam Rp225 ribu, baju batik Rp1,5 juta, dan kain penutup yang biasa dipakai untuk hiasan seharga Rp2,1 juta.

“Kalau kain katun harganya Rp450 ribu per lembar, serat nanas ukuran 2 meteran harganya Rp650 ribu, kain tenun bermotif troso harganya Rp950 ribu, dan kain sutra harganya di atas Rp1 juta. Sutra lebih mahal karena susah digambar dan dicanting. Masing-masing ukurannya itu ada yang 2×1 meter dan 1×1 meter,” kata dia.

Untuk pekerja, Candra sengaja mendatangkan empat orang perajin dari Pekalongan untuk membatik. Tiga orang khusus membatik dan satu orang lagi khusus mencelup. Proses membatik ini dilakukan di teras rumahnya sendiri.

Candra menambahkan, faktor modal dan jumlah karyawan merupakan hambatan yang utama dalam produksi. Hal ini yang membuatnya masih belum berani untuk mengekspor karya-karyanya.

Di samping itu, masih belum banyak konsumen menyukai batik dengan warna alam yang cenderung tua. “Orang-orang sukanya yang warnanya cerah, sedangkan batik dengan warna dari kayu-kayuan ini justru lebih tua,” kata Candra.

Meskipun demikian, Candra tetap optimis bisnisnya bisa maju dan berkembang. Dengan mengikuti pameran, Candra dapat menggaet pembeli dari luar negeri hingga kalangan artis.

“Pembelinya dari Belanda, Inggris, Jepang, dan Amerika. Pembeli dari Eropa juga banyak, mereka suka warna alam. Kalau artis, batik saya pernah dibeli oleh Oscar Lawalata, dia sering memesan batik saya,” kata Candra.

Apabila berminat untuk melihat-lihat dan membeli batik ini, Anda bisa berkunjung ke workshop and outlet Batik Pohon di Jalan Benda, Gang Bambu Kuning No. 7E, Kemang, Jakarta Selatan 12560. Anda juga bisa mengunjungi situs Batik Pohon di

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*