Lebih Aman, Usaha Mikro Kian Dilirik

Tahun 2014, ekonomi memang diperkirakan mengalami pelambatan dan tentu saja berdampak pada dunia perbankan. Langkah Bank Indonesia (BI) sepanjang 2013, beberapa kali menaikkan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) memicu terdongkraknya suku bunga pinjaman. Sejumlah regulasi di sektor properti, diyakini menyebabkan penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) melambat. Padahal, selama ini KPR menjadi andalan perbankan dalam meraup pendapatan jasa. Sejumlah faktor itu memaksa perbankan lebih cerdik mengucurkan kredit. Prinsip kehati-hatian lebih diperketat agar rasio Non Performing Loan (NPL) atau kredit macet tidak lantas meroket karena debitur kesulitan menanggung suku bunga pinjaman yang  telanjur tinggi.

Menghadapi situasi itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI Kantor Wilayah Surabaya berencana mendongkrak penyaluran kredit kepada  pelaku usaha mikro pada 2014.

“Para pelaku usaha mikro lebih tertib dalam menanggung pinjaman karena mereka  ingin usaha yang jadi satu-satunya sumber penghasilan itu tetap aman dan tidak terganggu,” ujar Ryanto Wisnuardhy, Head of Consumer and Retail BNI Wilayah Surabaya kepada Surya.

Dengan prinsip seperti itu, hingga kini, NPL di sektor mikro lebih rendah. Selain itu, yield (imbal hasil) mereka juga cukup baik. Bunga tidak terlalu sensitif untuk mereka.

Hingga akhir November 2013, BNI Surabaya telah menyalurkan kredit ke sektor mikro sekitar Rp 430 miliar, sementara kredit ke sektor konsumer kisaran Rp 4,125 trliun. Sampai akhir 2013, BNI Surabaya menargetkan penyaluran kredit mikro menembus angka Rp 450 miliar, sementara pada 2014, mereka ingin pertumbuhan penyaluran kredit mikro  tumbuh hingga 65 persen.

“Memang target pertumbuhan 2014 besar. Itu karena saat ini jumlah penyaluran kredit mikro masih terbilang kecil,” terang Ryanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*